Di antara Adab Peziarah Kubur: Melepaskan Sendal di Area Makam

💢💢💢💢

ูŠูŽุง ุตูŽุงุญูุจูŽ ุงู„ุณู‘ูุจู’ุชููŠู‘ูŽุชูŽูŠู’ู†ูุŒ ูˆูŽูŠู’ุญูŽูƒูŽ ุฃูŽู„ู’ู‚ู ุณูุจู’ุชููŠู‘ูŽุชูŽูŠู’ูƒูŽยป ููŽู†ูŽุธูŽุฑูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ู ููŽู„ูŽู…ู‘ูŽุง ุนูŽุฑูŽููŽ ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฎูŽู„ูŽุนูŽู‡ูู…ูŽุง ููŽุฑูŽู…ูŽู‰ ุจูู‡ูู…ูŽุง

Wahai pemakai sendal! Celaka kamu, lepaskan sendalmu! Maka laki-laki itu memandang dan tahu bahwa itu adalah Rasulullahย ๏ทบย ย maka dia melepas kedua sendalnya dan melemparnya. (HR. Abu Daud No. 3230, Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad No. 775. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)

Ada keragaman komentar para ulama kitaย ย  terhadap hadits ini:

โœ…ย ย ย ย ย ย ย Bahwa berjalan di antara kubur dengan sendal adalah makruh. (โ€˜Aunul Maโ€™bud, 9/36)

📌ย ย ย ย ย Bahwa berjalan di antara kubur dengan sendal adalah boleh, kecuali sendal sibtiyah. Ini pendapat Imam Ibnu Hazm. Namun pendapat ini dikoreksi, para ulama seperti Imam Ibnu Hajar, yang menurutnya itu merupakan jumud yang parah dari Ibnu Hazm, bagi Imam Ibnu Hajarย  larangan tersebut mutlak bagi semua sendal. Ada pun sendal sibtiyah karena memang sendal yang biasa dipakai saat itu. (Fathul Bari, 3/206)

โœ…ย Larangan ini terkait karena kesombongan (khuyala) si pemakainya. Sebagaimana kata Imam Al Khathabi. (โ€˜Aunul Maโ€™bud, 9/37) Ini juga dikritik oleh Imam Ibnu Hajar, bahwasanya para sahabat terbiasa memakai sendal sibtiyah, bagaimana mungkin itu disebut pakaian khuyala (sombong).ย  (Fathul Bari, 3/206)

📌ย ย ย Perintah melepaskan sendal karena untuk menghormati kuburan dan menghindari kesombongan. Ini dikatakan Imam Al โ€˜Aini (โ€˜Aunul Maโ€™bud, Ibid)

โœ…ย ย ย ย Sementara Imam Ath Thahawi mengatakan tidak makruh, sebab larangan Nabiย ๏ทบย kepada laki-laki itu disebabkan adanya kotoran pada sendal laki-laki tersebut. Dalil lain ketidakmakruhannya ย adalah hadits shahihย ย  bahwa ย mayit mendengarkan suara sendal pengantarnya. Juga hadits shahih bahwa Nabiย ๏ทบย shalat menggunakan sendal di masjid, maka itu menunjukkan jika dimasjid dibolehkan maka di kubur lebih utama untuk dibolehkan. ย ย (โ€˜Aunul Maโ€™bud, Ibid, Fathul Bari, 3/206ย  dan 10/309)

📌ย  Imam Ibnu Hajar mengoreksi Imam Ath Thahawi, bahwa larangan ini untuk menghormati mayit, sebagaimana hadits larangan duduk di kuburan, penyebutan sendal sibtiyah bukan menunjukkan pengkhususan.ย  Larangan ini sudah disepakati. (Ibid)

Namun jikaย  melepaskan sendal justru memudharatkan seperti tertusuk duri, panas, terkena najis, atau sulit dan repot membukanya seperti khuf, maka ini tidak apa-apa tetap memakainya. Karena, Adh Dharar Yuzaal โ€“ Bahaya mesti dihilangkan. Al Masyaqqat Tajlibut Taysir, kesulitan membawa kemudahan.

Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr Hafizhahullah mengatakan:

ุฃูŠ: ุฃู† ุฐู„ูƒ ู„ุง ูŠุฌูˆุฒุŒ ุฅู„ุง ุฅุฐุง ูƒุงู†ุช ุงู„ู…ู‚ุจุฑุฉ ููŠู‡ุง ุญุฑุงุฑุฉ ุดุฏูŠุฏุฉ ููŠ ุงู„ุฑู…ุถุงุกุŒ ุฃูˆ ูƒุงู† ููŠู‡ุง ุดูˆูƒ ูŠุชุฃุฐู‰ ุจู‡ ุงู„ุฅู†ุณุงู† ูุฅู†ู‡ ูŠู…ุดูŠ ุจุงู„ู†ุนู„ุŒ ูˆู„ูƒู† ูŠูƒูˆู† ุฐู„ูƒ ุจูŠู† ุงู„ู‚ุจูˆุฑ

Yaitu tidak boleh memakai sendal, kecuali jika pada area kubur tersebut sangat panas, atau berduri, yang dapat menyakiti manusia maka boleh dia berjalan dengan sendal, tetapi dengan cara dia berjalan di antara kubur. (Syarh Sunan Abi Daud, No. 371)

Demikian. Wallahu A’lam

🌺🌷🌾🌿🌴🍀

โœ Farid Nu’man Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top